Kendari, Sultra Ekspress
Tidak
masuknya Sultra sebagai salah satu jalur transportasi kereta api trans Sulawesi
dinilai banyak kalangan sebagai sebuah kegagalan diplomasi dari Pemerintah
Provinsi Sulawesi Tenggara, mengingat nilai strategis dari pembangunan jalur
kereta akan memberikan dampak besar pada perekonomian daerah. Ini adalah
kegagalan diplomasi sekaligus kegagalan besar bagi pembangunan perekonomian Sultra.
Kenapa
kegagalan diplomasi, sebab sultra merupakan salah satu daerah yang masuk dalam
Badan Koordinasi Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) namun Gubernur Sultra,
Nur Alam sama sekali tak mampu memainkan perannya, dengan kata lain pemimpin
Sultra sama sekali tak dihitung dalam percaturan ekonomi regional. Nah, dampak
dari kegagalan diplomasi tentu saja berimbas pada upaya pembanguna perekonomian
daerah sehingga dapat dikategorikan sebagai kegagalan pembangunan ekonomi
daerah. Ini tentu sangat disayangkan banyak pihak dimana pemda Sultra tak mampu
memainkan peran-peran strategis seperti ini.
“Kami
sebenarnya sangat menyesalkan bahwa rencana pembangunan jalur kereta di Sultra
itu batal, padahal hal itu merupakan salah satu pertimbangan yang sangat bagus
yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi daerah
kita,” ,”kata La Pili, Wakil Ketua DPRD Sultra.
Sejauh ini,
pihaknya juga belum mengetahui secara pasti apa alasan yang mendasari
pembatalan mega proyek tersebut. Namun pihaknya akan tetap berupaya untuk tetap
memperjuangkan agar pembangunan jalur kereta di Sultra bisa tetap dilaksanakan.
“Kami akan
coba menanyakan langsung kepada gubernur atau kementrian terkait alasan
dibatalkan pembangunan jalur kereta ke Sultra, jika kita sudah mengetahui apa
alasannya, maka kita bisa membenahi diri agar pembangunan jalur kereta bisa
tetap dilaksanakan,” tukasnya.
Seperti
diketahui, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung berharap,
seluruh Pulau Sulawesi bisa terkoneksi dengan kereta api. Dengan demikian, akan
terkoneksi kota-kota, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi,
sehingga pertumbuhan ekonominya lebih tinggi, penyerapan tenaga kerjanya lebih
besar, kemiskinannya berkurang, maka otomatis kesejahteraan rakyatnya bertambah.
“Pertama
kali rakyat Sulawesi bisa melihat sepur. Bahasa Jawanya itu ‘kereta api’ itu
‘sepur’. Karena selama hidup warga Sulawesi itu tidak bisa melihat kereta api.
Karena memang tidak ada relnya,” ucap pria yang biasa disapa CT di Makassar.
Diuraikannya,
proyek KA Trans Sulawesi yang di-groundbreaking-kan merupakan upaya
kerja keras yang dilakukan khususnya dari Kementerian Perhubungan. “Kita akan
lakukan groundbreaking proyek pembangunan rel kereta api pertama di
Pulau Sulawesi dari Makassar ke Parepare. Ini baru awal,” tuntas Chairul.
Proyek
pembangunan jalur rel single track Makassar-Parepare sepanjang lebih 150
kilometer dalam proyek kereta api Trans Sulawesi yang menelan total dana Rp10
triliun secara resmi diinisiasi oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL)
sejak beberapa tahun terakhir.
SYL
mengundang lima menteri terkait di Kabinet Indonesia Bersatu II untuk melakukan
peletakan batu pertama (groundbreaking) di radius Pelabuhan Garongkong,
Kabupaten Barru, Sulsel, hari ini, Selasa (12/8/2014).
Gubernur
Sulsel itu menghendaki paling cepat per kalender 2015 pembangunan fisik proyek
KA Trans Sulawesi sudah berjalan.
“Yang akan
kita bicarakan antara lain bagaimana kelanjutan program-program besar yang
memang menyentuh kepentingan masyarakat dan sudah direncanakan dari beberapa
tahun yang lalu. Dan penundaan tidak boleh terjadi misalnya proyek yang
katakanlah sudah di-groundbreaking kemudian terhenti,” papar SYL.
Di tempat
yang sama, Menteri PU Djoko Kirmanto merasa optimistis proyek KA Trans Sulawesi
dapat lekas dikerjakan. “Kalau masuk ke dalam Renstra (Rencana Strategis),
anggaran sudah ada, dan desainnya sudah ada, akan di-groundbreaking. Kalau
(proyek) yang sudah ada desainnya ya segera (dikerjakan),” tutur Djoko.(OZ)
